Amerta di Balik Mendung
Suatu malam, di perkotaan yang bising, terdengar langkah kaki seorang laki-laki muda yang tengah berkelahi dengan pikirannya sendiri, yang lebih bising daripada hiruk-pikuk kota. Rajendra Argatama, yang kerap disapa Jendra. Kini, ia sedang berjalan menuju gang terpencil tempat ia singgah bersama adiknya, Rhema Argatama.
Jendra adalah seorang mahasiswa yang cukup pintar, sehingga ia berhasil masuk universitas dengan beasiswa dan kini sedang menduduki semester akhir. Ia sering bekerja di kafe peninggalan neneknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rhema adalah siswi teladan dengan berbagai prestasi akademik yang dimilikinya. Kemampuannya meraih nilai tinggi di beberapa pelajaran membuatnya selalu berada di peringkat teratas. Sayangnya, ia dijauhi teman-teman sekelasnya karena dianggap sebagai saingan. Namun, Rhema masih memiliki beberapa teman yang setia padanya dan menjadi tempat curhat serta berkeluh kesah.
Ia senantiasa ke kafe di sela-sela waktu kosongnya untuk membantu kakaknya mengurus satu-satunya mata pencaharian mereka. Di waktu senggang, Rhema akan belajar untuk mengisi waktu luangnya.
Kafe minimalis milik mendiang nenek mereka tersebut adalah satu-satunya sumber penghidupan yang mereka miliki. Orang tua mereka sudah meninggal sejak Jendra berusia sembilan tahun. Saat itu, mobil yang dikendarai orang tua mereka mengalami rem blong, hingga hilang kendali dan menabrak pohon di bahu jalan. Ayah dan Ibu mereka tewas di tempat, meninggalkan mereka berdua dan mereka harus saling menguatkan satu sama lain. Sejak saat itu, mereka dirawat oleh Sang Nenek sampai Nenek harus kehilangan nyawanya karena penyakit yang dideritanya.
“Kak, kita kehilangan nenek juga. Kita tidak punya siapa-siapa lagi,” ucap Rhema dengan terbata-bata.
“Jangan ngomong gak baik, cantik. Kita masih punya satu sama lain untuk saling menguatkan. Kamu masih punya kakak, kan?” jawab Jendra.
“Udah, ya, Dek. Kita harus ikhlas agar nenek bisa tenang di sana.” Lalu, Jendra pun memeluk Rhema dan menenangkannya, meskipun dirinya sendiri merasa sangat hancur. Kabar duka tersebut datang kepadanya saat ia masih di SMA.
Kenangan itu terlintas seketika di benak Jendra. Untuk sampai di titik ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus merawat adiknya seorang diri, dan membagi waktu antara sekolah dan bekerja di kafe.
Setiap hari, Jendra berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua, meskipun terkadang rasa lelah dan kesedihan menyelimuti hatinya.
“Kak, ayo pulang! Sebentar lagi mau hujan, ini udah mendung.” seru Rhema.
Jendra sontak kaget dan menjawab. “Iya, Dek. Ayo cepat, jangan sampai kehujanan.
”Jendra dan Rhema pun mengambil tas dengan cepat, lalu mengambil kunci motor dan mengendarainya pulang. Sesampainya di rumah, mereka segera membuka knop pintu dan masuk. Begitu mereka memasuki ruang tamu, hujan baru saja mulai turun.
Setelah mereka memasuki ruang tamu, suara hujan yang deras menandakan suasana semakin dingin. Jendra melihat Rhema yang tampak lelah, lalu ia berkata, "Ayo, kita buat teh hangat untuk menghangatkan badan." Rhema mengangguk setuju, dan mereka berdua menuju dapur.
Sambil menunggu air mendidih, mereka bercerita tentang hari yang melelahkan. Tiba-tiba, suara petir menggema membuat mereka terkejut. "Sepertinya hujan ini akan berlangsung lama," kata Jendra. Rhema tersenyum, "Baguslah, kita bisa menikmati waktu bersama di rumah.” Air pun sudah mendidih. Mereka pun menikmati momen bersama tersebut di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat bersama suara rintik hujan yang menenangkan. “Eummm…” ucap Rhema ragu. “Kenapa, Dek? Gak apa-apa, ngomong aja,” ucap Jendra meyakinkan. “Aku boleh minta tolong? Boleh gak di ulang tahunku kali ini ada kue? Gak apa-apa, Kak, kalau aku harus buat sendiri,” tanya Rhema penuh harap.